Thursday, 24 January 2013

Ingatlah Ibumu



Disuatu waktu, disebuah desa, hidup seorang janda beranak satu. Suaminya telah meninggal beberapa bulan yg lalu karena kanker paru. Ibu ini begitu sabarnya membesarkan sang anak lelaki satu2nya. Setiap pagi sambil membawa anaknya, dia harus pergi mencari kayu bakar di hutan untuk kemudian dia jual ke pasar. Tidak hanya itu, sepulangnya dari menjual kayu bakar dipasar dia masih harus berbelanja untuk kebutuhan hidupnya dan si anak. Dan kalau hanya mengandalkan uang dari penjualan kayu bakar saja, tentu belum cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka berdua, jadi sang Ibu masih harus berjualan ubi bakar di sore harinya.

Tapi Ibu ini tidak pernah mengeluh akan keberadaanya yang serba sulit. Malah, semakin lelah ia, semakin sayang dia terhadap anak lelaki satu2nya ini, karena ia yakin anak lelakinya ini suatu saat nanti akan tumbuh menjadi pemuda yang dapat merubah keadaan yang sekarang dialaminya.

Waktu terus bergulir, si anak lelaki pun tumbuh semakin besar. Semenjak di bangku sekolah dasar, anak ini sudah mampu membuat bangga si Ibu dengan prestasinya yang luar biasa gemilang. Semua teman dan gurunya disekolah mengagumi dia.

Hal ini kontan membuat si Ibu merasa tidak sia-sia berkorban banyak demi si anak.

Semakin lama, si anak tumbuh semakin dewasa. Prestasinya yang gemilang membuat si anak tidak kesulitan untuk menggapai cita-citanya. Dengan mudah dan murah, si anak dapat melanjutkan sekolahnya ke jenjang yang lebih tinggi, dan kemudian si anak pun mendapatkan gelar sarjana. Si Ibu merasa senang dengan perkembangan anaknya. Dan si anak pun sangat menyayangi Ibunya. Ia selalu mendengarkan setiap nasihat Ibunya.

Suatu hari si anak mendapatkan pekerjaan yang mendatangkan penghasilan cukup banyak, sehingga uang yang ia dapatkan bisa ia gunakan untuk membangun rumah tua milik ibunya di desa tempat dia dibesarkan dengan penuh kasih sayang oleh sang Ibu.

Kehidupan serba susah yang dulu dialami mereka berdua berubah sudah. Kini mereka tinggal dirumah yang layak huni, si Ibu pun tidak perlu lagi mencari kayu bakar di pagi hari untuk di jual ke pasar, karena semua biaya hidup kini di tanggung oleh si anak.

“Ibu tidak perlu khawatir lagi soal kehidupan kita Bu, semua biar aku yang urus sekarang” kata si anak dengan penuh kasih sayang kepada Ibunya.

Dengan mata berkaca-kaca, si Ibu berkata pada anaknya, “terimakasih nak, Ibu bersyukur mempunyai anak sepertimu. Kamu sungguh baik”

“jasa-jasa Ibu selama ini, tidak akan pernah aku lupakan Bu. Tanpa Ibu, aku tidak akan bisa seperti ini. Terimakasih Bu.. aku tidak tau bagaimana harus membalas jasa-jasamu itu..” ujar si anak lagi.

Si Ibu tidak menjawab dengan kata, dia menjawab dengan pelukan hangat terhadap anaknya. Di dalam hatinya si Ibu berkata “aku tidak mengingat jasa apa yang aku perbuat untukmu nak..seandainya aku ingat, aku ikhlas”

Si anak yang sejak tadi tegar, kini meneteskan air mata di pipinya ketika si Ibu memeluknya dengan hangat sehangat peluknya di saat si anak kecil dan tak berdaya

Seiring bertambahnya usia, si anak pun merasa sudah waktunya untuk mencari pasangan hidup. Ibunya yang kini mulai tua-pun merestui niat anaknya tersebut untuk menikah.

Sebulan kemudian anaknya melangsungkan pernikahan, si anak mendapatkan jodoh seorang wanita cantik dari keluarga yang mapan dan bersahaja.

Setelah menikah, sudah menjadi tradisi di daerah tersebut bahwa istri harus tinggal di rumah suaminya. Maka kini dirumah si anak tinggal-lah dia, si Ibu, dan istrinya.

Bulan demi bulan pun berlalu. Kondisi si Ibu kini mulai rapuh dan sakit-sakitan. Karena khawatir akan kesehatan Ibunya, si anak memeriksakanya ke dokter, dan ternyata si Ibu yang sudah renta itu kini mengidap penyakit paru yang parah.

Si isteri yang mengetahui hal ini mulai khawatir dan merasa jijik akan keberadaan Ibu mertuanya tersebut. Apalagi si isteri sedang mengandung anak pertama. Kekhawatiran ini ternyata juga dirasakan oleh si anak. Karena merasa terganggu dengan kondisi si Ibu yang sering batuk-batuk, muntah darah, menumpahkan makanan ataupun minuman, dan sering mengompol, akhirnya si anak dan isterinya pun berembuk dan mereka sepakat untuk meninggalkan si Ibu di gunung, seperti adat setempat yang biasa meninggalkan orang tua yang sudah renta dan menyusahkan di atas gunung di daerah tersebut dengan harapan tidak merepotkan keluarganya lagi.

Hingga tiba pada hari yang telah ditentukan, saat itu hari masih pagi, matahari baru saja bersinar di ufuk timur. Si Ibu yang tua renta dan sakit-sakitan ini sedang sibuk memetiki bunga mawar yang ditanam oleh si isteri di kebun belakang rumah. Si anak menghampiri si Ibu sambil berkata “Ibu, ayo kita pergi jalan-jalan”

Si Ibu pun bertanya “tidakkah ini terlalu pagi, Nak? Bagaimana dengan isterimu yang sebentar lagi akan melahirkan?”

“tidak apa-apa Bu, ada bibi yang akan menjaga menantumu”

“baiklah kalau begitu, Nak” ujar si Ibu menuruti.

Perjalanan pun dimulai. Tidak banyak pembicaraan antar Ibu dan anaknya kali ini, hanya saja sepanjang perjalanan si Ibu sibuk meletakkan bunga mawar –yang ia petik dikebun belakang rumahnya – ditengah jalan yang ia dan anaknya lewati.

Si anak pun bertanya “untuk apa mawar-mawar itu Ibu?”

Si Ibu tidak menjawab, ia hanya tersenyum.

Melihat hal itu si anak tidak menghiraukan dan terus melanjutkan perjalanan.

Kini perjalanan mulai menanjak dan mulai memasuki kawasan hutan yang lebat dan sedikit gelap karena kabut dan rimbunnya pepohonan disana.

Sudah hampir 2 jam mereka berjalan menaiki gunung, sesekali si Ibu bertanya, dan sesekali juga si anak yang bertanya. Tidak banyak yang mereka bicarakan.

Akhirnya mereka tiba di satu tempat yang datar, tepat di bawah pohon rindang yang berakar besar. Si Ibu yang kelelahan akhirnya duduk di akar tersebut, kemudian tertidur. Melihat hal ini si anak mulai bimbang akan niatnya, yaitu meninggalkan Ibunya di gunung ini. Tapi ia juga teringat bahwa isterinya sebentar lagi akan melahirkan anak pertamanya, jadi tanpa ragu ia tinggalkan ibunya tertidur pulas di atas akar pohon rindang tersebut.

Begitu mulai menuruni bukit, si anak merasa bingung untuk menentukan arah pulang kerumah karena lebatnya hutan di  gunung tersebut. Tapi kemudian ia melihat mawar yang ada di sepanjang jalan. Ia ingat, Ibunya meninggalkan mawar-mawar sepanjang perjalanan mendaki tadi, ternyata tujuanya adalah untuk membantu anaknya mengingat arah pulang. Si anak mulai merasa menyesal. Tapi dia terus mengikuti jejak-jejak mawar tersebut menuruni gunung.

2 jam sudah, sama seperti waktu ketika ia mendaki bersama Ibunya, ia tiba di rumah. Ketika tiba di halaman rumahnya, ia mendengar isterinya berteriak kesakitan karena akan melahirkan. Langsung terbesit dalam benak si anak “apakah begini kondisi Ibu-ku saat melahirkan aku?”

Rasa penyesalan mulai menderu hati si anak. Langsung ia berlari kedalam rumah, kemudian ia masuk ke kamar Ibunya, tempat dimana ia selalu dipeluk penuh sayang oleh Ibunya saat dia masih kecil. Tapi dia hanya mendapati kasur berseprai rapih, tanpa ada Ibunya yang biasa ia jumpai berbaring atau duduk di atasnya. Ada secarik kertas di atas kasur berseprai rapih itu, “apa isinya?” ia bertanya-tanya sambil bergegas membukanya. Isi secarik kertas itu adalah tulisan kusut yang ditulis oleh seorang Ibu renta yang tangannya gemetar, yang 2 jam lalu ia tinggalkan di hutan. Bunyinya :

Anakku sayang, Ibu mengerti kau dan isterimu tidak akan menyukai keadaan Ibu yang sakit-sakitan dan renta ini. Jadi Ibu ikhlas akan meninggalkan kalian ke atas gunung. Tolong sampaikan maaf Ibumu ini karena telah memtik mawar-mawar yang isterimu tanam dihalaman. Itu semua Ibu lakukan karena Ibu tau, kau akan kesulitan mencari jalan pulang. Apalagi sebentar lagi cucu Ibu, anakmu yang pertama, akan lahir. Ibu turut berbahagia Nak. Ibu selalu menyayangi kalian semua. Nak, kau tidak usah bersedih dan tidak usah berusaha mencari ibu kembali karena mungkin ketika kau membaca surat ini, Ibu sudah tidak ada lagi di dunia. Jadi tolong sampaikan salam dan maaf ibu kepada isterimu, dan cucu Ibu.

Salam sayang selalu untukmu Nak.

-Ibu yang selalu mencintaimu-

Setelah membaca surat ini, si anak tak mampu lagi membendung air matanya. Ia menangis sejadi-jadinya, tepat saat itu, anak pertamanya pun lahir seperti harapan si Ibu. Namun kini semuanya telah terlambat. Air mata si anak tak ada gunanya lagi..

--End--


*bener-bener gak sanggup nahan airmata baca kisah ini. sedihhh T______T 
satu lagi, pengen bilang: Lis cinta mama karena Allah :') 



Repost dari Salman Al Fatih, dari blog lama bliau. hehe..

Interaksi dengan AlQuran

Repostttt ^^

Setelah seharian bertualang di IBF aku kembali ke kamar kost tercinta, melihatnya semakin menyunggingkan senyum. Semakin banyak saja koleksi bukuku, meski belum lengkap, tapi ternyata rak buku tempatku memajang buku-buku ini sudah penuh. Ah, sudahlah... Insyallah nanti akan kubuatkan lemari tersendiri untuk buku-buku ini. Impian untuk memiliki perpustakaan suatu saat semakin menguat dan semakin nyata, nanti akan kucoret impian itu sebagai tanda aku telah melakukannya. Amin...


Mengingat dan membaca ringkasan bedah buku tentang KHAWATIR QUR'ANIYAH tadi pagi membuatku semakin merasakan, betapa sebenarnya berinteraksi dengan Al-Qur'an adalah hal yang menyenangkan. "Jika ingin menikmati berinteraksi dengan Al-Qur'an jangan sibuk dengan makna kata-perkata, namun nikmatilah makna secara global" kata pengisi acara tadi. "Ingin tahu bagaimana cara memaknai surah-surah dalam Al-Qur'an? Silahkan baca di buku ini!" kata MC.. Ingin sekali rasanya memiliki buku itu, membacanya, hingga aku bisa merasakan interaksi dengan Al-Qur'an.


"Dari Utsman r.a, ia berkata : "Rasulullah SAW bersabda : 'Sebaik-baik kalian adalah orang yang mau mempelajari Al-Qur'an dan mengajarkannya kepada orang lain." (HR. Bukhari)


Sore ini, setelah merenungi apa yang sudah disampaikan tadi. Coba ku buka buku riyadhus shalihin karya Imam Nawawi, ku buka bab keutamaan membaca Al-Qur'an. Kudapati disana betapa luar biasa Al-Qur'an itu, sebuah kitab yang memiliki kandungan dan keutamaan. Kitab ini adalah kitab yang mulia, yang terjaga keasliannya dari tangan-tangan jahil, yang indah susunannya, yang runut penjelasannya dan seutama-utamanya ilmu adalah Al-Qur'an. Bagaimana ketika para pembaca Al-Qur'an ini dijanjikan pahala yang besar, bagaimana ketika pembacanya akan dirahmati,dan akan dimuliakan. Luar biasa....


Sering kita lihat Al-Qur'an diterima sebagian dan ditinggalkan sebagiannya. Sering pula kita saksikan Al-Qur'an hanya menjadi bacaan ketika ada orang mati, lalu 'say good bye...' alias ditinggalkan sampai nanti akan ada orang meninggal lagi. Nahkan ada yang memisahkan sebagian Al-Qur'an sehingga menganggapnya kitab yang berbeda, seringkan kita temukan QS. Yasin yang dibukukan sendiri dan dibaca diwaktu-waktu tertentu? Semoga kita terhindar dari hal-hal seperti itu.


Di awal-awal surah Al-Baqarah disebutkan bahwa Al-Qur'an ini di turunkan bagi orang-orang yang bertaqwa. Setiap orang bertaqwa pasti beriman dan tidak akan menerima sebagian dan membuang sebagian yang lain. Namun, orang beriman belum tentu bertaqwa. Jadi, mari kita belajar menjadi pilihan yang pertama. Ya... bertaqwa, karena dengan taqwa ini kita akan dapat mengintegrasi Al-Qur'an dalam kehidupan kita secara kaffah.... dan Al-Qur'an akan membimbing kita menuju kesuksesan dunia dan akhirat.


Di petang ini kututup dengan do'a "Laahaula wa laa quwwata illaa billaah" ( Tiada daya untuk menjauhi maksiat dan tiada kekuatan untuk berbuat maksiat, kecuali dengan pertolongan Allah ). Amin....


By. Salman Al-Fatih

Monday, 21 January 2013

Banjir Jakarta 2013

Kamis shubuh, aku mendapatkan sms dari ka Dhora isinya memintaku untuk menjadi tim medis Sabtu dan Ahad pekan ini. Kemudian, siang harinya aku mendapat sms lagi dari ka Sa'adah yang memintaku segera ke DPD PKS untuk membantu di dapur umum. Banjir tahun ini menurutku sama seperti banjir 10 tahun yang lalu, banjir besar yang melumpuhkan aktivitas dan menimbulkan banyak kerugian.

11 tahun yang lalu, tepatnya pada tahun 2002 sebelum aku pindah ke Jakarta Barat, aku merasakan bagaimana menjadi korban banjir besar. Rumahku yang dulu di Jakarta Utara terkena dampak banjir. Di jalan air tingginya sekitar 2 meter dan di dalam rumah sebesar 1,5 meter (setinggi langit-langit rumah di lantai 1). Kami kesulitan air bersih, bahan makanan, tidak ada listrik, terisolir tidak bisa pergi kemana-mana, dan keadaan tersebut terjadi selama 1 bulan lamanya.

Hal tersebut yang membuatku benar-benar merasakan empati kepada saudara-saudaraku yang terkena dampak banjir tahun ini. Namun, aku belum bisa pergi ke Jakarta karena kami diizinkan pulang dari asrama setiap hari Sabtu dan akses untuk kerumah (angkutan umum) tidak beroperasi akibat banjir. Aku hanya bisa memperkuat doa untuk saudara-saudaraku yang kebanjiran.

Kamis malam, 'sang guru tercinta' mengirim sms, isinya
"Lihat saudara disekitar kita terdekat.. Sudah makan kah mereka? Bagaimana mereka tidur? Lokasi sulit dijangkau, makanan pun tak bisa sampai, apalagi air bersih, bekerja atau memikirkan skripsi? semua itu tak terfikirkan dibenak mereka. Mereka hanya memikirkan kapan air akan surut, kapan mereka akan terbebas dari banjir, bagaimana nasib keluarga dan tetangga mereka ditengah matinya lampu ditengah kegelapan malam, dingin suasana mencekam, akses komunikasi terputus dan air yang semakin meninggi.. Wahai ukhti, buktikan rasa syukur itu, bahwa mereka adalah bagian dari tubuh kita, hilangkan rasa egois itu.. Bagaimana jika mereka adalah kita???"
Jleb!! Aku benar-benar tertohok. Langsung aku balas sms itu,
"iya mba insyaAllah besok lis kesana setelah dapat izin dari ustadzah di RQ dan jika ada angkutan umum untuk pulang".
Tidak lama kemudian datanglah sms kedua dari beliau,
"Teringat wajah ikhwah yang terkena banjir, satu persatu sms itu masuk, bahkan hingga nomer hape lain yang mereka kirimkan karena hape mereka mati.. Mereka katakan, 'mba disini butuh 500 bungkus nasi, masih banyak yang belum makan. mba disini mati lampu. Mba, air semakin meninggi. Mba, disini tidak ada air bersih. Mba, tetanggaku kesetrum. Mba, balita tetanggaku sudah berhari-hari tidak makan. Mba, balita dekat rumahku hanyut. Mba, kapan ya bantuan itu datang?' semua ikhwah berjibaku menolong mereka, tanpa kenal lelah bahkan menerobos ketinggian air yang dapat membahayakan nyawa mereka 24 jam demi saudara mereka. Bagaimana dengan kita?"
Astaghfirullah.. Allah, ampuni hamba.. airmataku menetes tak kuat menahan sedih yang membuncah. Langsung ku balas sms beliau,
"Iya mba, insyaAllah Lis besok kesana"

Jumat siang aku berangkat ke DPD PKS Jak-Bar. Ketika sampai, disana terlihat beberapa ummahat dan teman-temanku yang sedang memasak nasi, memasak telur, memasak mie, dan yang sedang mengiris bumbu. Akupun segera bersatu dengan mereka. Membuat 2000an bungkus nasi untuk makan malam, yang akan dikirim ke warga di Jak-Bar yang menjadi korban banjir.

Sabtu pagi aku dan beberapa teman tim medis mengadakan yankes di lokasi-lokasi banjir. Tim ku pergi ke Tambora dan Jelambar. Di tambora, banjir mencapai sepinggang orang dewasa. Kami pergi ke tempat pengungsian di SMKN 9 Jakarta. Banyak pengungsi yang menderita sakit seperti gatal-gatal, diare, dan ISPA. Dan kebanyakan yang sakit adalah anak-anak. Selain itu, disana juga tidak ada air bersih (bahkan kami harus tayamum untuk melaksanakan sholat), makanan juga masih minim, tidak ada listrik, dan mereka juga kekurangan pakaian. Setelah dari Tambora, Sore hingga malam, kami yankes di Jelambar. Hampir sama dengan Tambora, disana banjir hampir sepinggang orang dewasa. Kami merasakan bagaimana jalan di air banjir, hujan, gelap dan kedinginan. Bagaimana nasib mereka yang tiap saat harus berada di air karena kebanjiran? Rabbiy, ampuni kami yang lalai dan dzolim terhadap diri kami sendiri sehingga kami merasakan dampak akibat kelalaian kami, banjir besar yang menyusahkan kami.

Ahad dan Senin, aku masih terlibat menjadi tim medis. Alhamdulillah kondisi saat ini lebih baik dari sebelumnya. Di beberapa titik, banjir sudah surut. Hanya bekas-bekas banjir yang terlihat (sampah, air yang tergenang, lumpur). Namun hal ini jangan membuat kita lupa lagi. Jangan berhenti berdoa meminta ampun serta perbaiki diri (tidak membuang sampah ditempatnya, terus bersyukur dengan memanfaatkan yang kita punya untuk membantu saudara kita yang membutuhkan). Semoga banjir kemarin menjadi pengingat dan membuat kita makin dekat kepada Allah SWT. Aamiin Allahumma Aamiin..

Saturday, 19 January 2013

Ketika Akal dan Hati Bicara Cinta


Di sebuah tempat, seorang hamba ditengah kesunyian alam, akal dan hati berdiskusi berkenaan kasih dan cinta..
Akal : Assalamualaikum, sahabat.
Hati : Waalaikumussalam…
Akal : Apa khabar iman anda?
Hati terdiam…
Akal bertanya sekali lagi.
Akal : Apa khabar iman anda?
Hati : Kurang sehat, MUNGKIN.
Akal : Mengapa?
Hati : Aku merindui dia segenap jiwaku…
Akal : Dia yang mana, sahabatku?

Hati : Kedua dia. Dia yang HAKIKI, juga dia yang entah kemana akhirnya..
Akal : Tidak mengapa, Itukan fitrah manusia.
Hati : Tapi rinduku kepadanya kadangkala membuat jiwaku gelisah. Fikiranku melayang terbang jauh ke angkasa. Kadangkala ketika beribadah juga aku teringat dia.
Akal : Cintamu padanya, juga cintamu padaNya, bukankah cinta kepadaNya kan yang lebih utama?
Hati : Tapi… Aku benar-benar mencintai dia. Aku benar-benar rindu dia. Aku mencintainya kerana Allah. Kami saling menasihati kepada kebaikan. Dan Aku mau mengejar syurga bersamanya.
Akal : Apa makna cinta?
Hati : Kasih dan sayang.
Akal : Bagiku cinta itu gila.
Hati : Mengapa begitu?
Akal : Apabila kita mencintai seseorang, kita asyik mengingat dia. Apa yang dikata jangan, sebisa mungkin kita akan menghindarinya. Apa yang diminta, sebisa mungkin kita mengusahakannya. Bila ada yang lain mendekati, bergolak rasa cemburu. Apakah kau rasa begitu?
Hati : Ya. Begitu yang aku rasa.
Akal : Apa kau tahu apa itu ibadah?
Hati : Orang kata ibadah itu taat dan patuh.
Akal : Ibadah itu juga adalah cinta.
Hati : Bagaimana dimaksudkan begitu?
Akal : Ibadah itu cinta. Berkasih-kasihan dengan Tuhan.
Hati terdiam lagi…
Hati : Jadi… Apa sebenarnya yang ingin kau sampaikan wahai akal?
Akal : Fikirkan, kalau kau benar mencintai dia kerana Allah, apa kau telah mengadu kepadaNya?
Hati : Aku puas sudah berdoa. Aku mendoakannya empat puluh kali setiap hari. Siang dan malam! Tegas hati..
Akal : Apa kau berdoa kepadaNya hanya kerana ketika kau terasa jauh dengannya? Apa kau hanya melipatgandakan ibadahmu ketika jiwamu merasa tak tenang?
Hati diam dan tertunduk…
Akal : Bagaimana mungkin kau katakan cintamu kerana Allah. Sedangkan kau mengabaikan Dia ketika cintamu dengannya sedang indah bercahaya. Sabarlah wahai hati. Doamu mungkin tidak makbul sekelip mata. Barangkali Allah akan memakbulkannya di lain masa. Barangkali Allah akan memberi hadiah yang lebih berharga untukmu!
Aliran kesejukan dan penyesalan terasa semakin deras mengalir ke kepala sang hati…
Akal : Cinta kepada manusia yang gila seperti itu, hanya layak disandarkan kepada Allah. Allah menarik cintamu kerana Allah lebih mencintaimu. Allah merindui doa dan tangisan hambanya. Allah mau kau kembali mengindahkan cintamu kepadaNya!
suasana semakin hening
Hati mulai menangis… Sepi… Kesal..
SEMOGA KITA BISA MENGAMBIL PELAJARAN DAN HIKMAH DARI KISAH DI ATAS

Repost dari blog http://genbizone.wordpress.com/2011/01/06/ketika-hati-dan-akal-bicara-cinta/

Saturday, 15 December 2012

Cinta

Cinta
Tiba-tiba saja melintas judul ini dipikiranku. Mungkin karena saat ini aku ingin meluapkan perasaanku mengenai cinta. Ya, tentang ia..

(paragraf ini boleh tidak dibaca, karena merusak unsur puitis dalam jurnal ini. hehe)
Sudah sekitar dua bulan ini aku menggandrungi tema ini. Sangking gandrungnya, hampir 20an buku yang bertema cinta dan pernikahan aku lahap dengan semangatnya. Padahal biasanya baca 2 buku dalam sebulan tuh udah alhamdulillah banged. hehehee..

Cinta, tak perlu lagi kudefinisikan karena sudah banyak yang mendefinisikannya. karena setiap jiwa pasti merasakannya dan mengetahui artinya. Yang ingin aku share saat ini adalah bagaimana hendaknya kita mengelola cinta, agar cinta kita berbuah syurga, agar tidak menjadi budak cinta, dan cinta kita menjadi barakah. *agak lebay, karena sejatinya penulis juga masih galau binti labil* hihihi..
Oke, sekarang mari kita serius berbicara cinta *pasang muka serius*

Saat Aku Jatuh Cinta
Tanpa pernah ku duga, ia yang datang dengan tiba-tiba. Dan dengan akhlak serta kesungguhannya, ia mulai menabur benih cinta. Akupun menyambutnya dengan husnuzhan. Mungkin ini adalah jawaban atas doa ku. Mungkin inilah yang akan menentramkan jiwaku. Mungkin inilah dan mungkin-mungkin lainnnya.
Lalu, aku belajar agar cintaku tetap dalam rambu-rambu syariat-Nya. Tetap mencintai Sang Pemilik Cinta diatas segalanya. Tidak ingin menjadi budak cinta seperti Romeo-Juliet yang mati atas nama cinta atau Qois yang kehilangan masa depan karena keter'gila'annya kepada Laila. Ya, aku ingin memenangkan cinta. Aku ingin cintaku berbuah syurga.
Kucoba hadapi cinta dengan sabar dan sholat. Kutitipkan ia kepada Sang Maha Cinta. Kutumpahkan semua asa ku, harapku, mimpiku pada tiap sujud malamku, pada tiap tetes hujan yang berkah, pada tiap waktu yang kuharap Sang Pemilik Cinta mengijabahnya. Lalu kupasrahkan semua kepada-Nya. Kepasrahan total kepada Allah.
"... Dan wanita yang baik adalah untuk lelaki yang baik dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita yang baik.." (Qs An-Nur: 26)

Belajar Tentang Cinta
Mencoba memahami cinta. Tidak ingin cinta ini menjerumuskan aku dan ia dalam kenistaan. Mencoba menjaganya dan menjaga diriku untuk tetap dalam keridhoan-Nya.
Mentadabburi ayat-ayat cinta dari Sang Pemilik Cinta. Dia yang menciptakan cinta agar hati kita tenang dan tentram. Jadi, bukan galau namanya jika cinta ini karena Allah, ini adalah fithrah.
"... Dia menciptakan untuk kalian, istri-istri dari jenis kalian sendiri supaya kalian cenderung dan merasa tentram kepadanya, dan dijadikan diantara kalian rasa cinta dan kasih sayang..." (Qs Ar-Rum: 21)
Selanjutnya kucoba menyelami cinta dari hadits. Akupun lebih memperbaiki agamaku. Tidak pesimis dengan segala kekuranganku. Karena laki-laki shalih akan memilihku karena agamaku, dan mengenyampingkan hal lainnya.
"Wanita dinikahi karena empat hal; sebab hartanya, kedudukannya, karena kecantikannya, dan karena agamanya. Maka pilihlah yang beragama agar barakah kedua tanganmu." (HR Muslim)

Dan Akupun Mencoba Meraihnya
Tidak seorangpun mengetahui kapan ia mati. Dan yang ku ingin adalah aku menemui Sang Pemilik Cinta dengan kesempurnaan agamaku.
"Jika seorang hamba menikah, maka telah menjadi sempurnalah setengah agamanya. Maka hendaklah ia bertaqwa kepada Allah pada sebagian yang lainnya." (HR Al Hakim dan Ath Thabrani dari Anas bin Malik)
Kusingkirkan semua kecemasanku. Pernah aku berfikir, apa benar aku sudah siap? sikapku terkadang masih seperti anak kecil, belum bisa memasak makanan-makanan yang berbumbu banyak, belum punya persiapan finansial, dll. Tapi semua kecemasanku pun hilang.
"...Dan Allah mengetahui sedang kamu tidak mengetahui." (Qs Al Baqoroh: 232)
Ya, Allah lebih  mengetahui kesiapan hambanya. Karena Allah tidak membebani melainkan atas kesanggupan seorang hamba. Lalu, kesiapan finansial? Insya Allah Allah sudah menjamin rizki kita :)
"... Jika mereka faqir, Allah akan mengkayakan mereka dengan karunia-Nya. Dan Allah Maha Luas (pemberianNya) lagi Maha Mengetahui." (Qs An Nur: 32)
"Dan tidak satupun makhluk bergerak (bernyawa) di bumi melainkan semua dijamin Allah rezekinya.." (Qs Hud: 6)
Masihkah kau cemas wahai diri?!
Kalau sudah tidak, mari kita sambut seruan cinta-Nya dengan Basmallah :)



Sunday, 28 October 2012

Mamah, tunggulah aku di Syurga


Ini adalah tulisanku saat mengikuti lomba cerpen ramadhan di Multiply. Sudah lama mengendap di folder netbuk. Daripada habis dimakan virus, mending aku share lah yaa~ hehe..
Selamat membaca, semoga bermanfaat ^__~


Mamah, tunggulah aku di Syurga


1 Agustus 2011, Di kamarku
Aku melihat diriku dikaca. Sangat berbeda dengan yang ada dalam foto di dinding kamarku. Rambutku yang panjang dan indah, kini tertutup oleh jilbab yang besar, pakaian ku yang mini sangat berbeda dengan gamis panjang yang kupakai saat ini. Semua berlalu begitu cepat. Aku pun membuka diari biruku kembali, mencoba merunut kisah hidup penuh perjuangan, kisah manis bersama mamah.
Tentang Aku
Namaku Cindy Nathalie. Salah! Namaku sekarang adalah Shofia. Sudah 1 tahun aku menjadi muslimah. Sebelumnya aku adalah seorang Katolik dan dibesarkan dari sebuah keluarga Katolik yang taat. Aku mempunyai mamah yang sangat cantik, ia sangat menyayangiku. Sudah 3 tahun mamah di diagnosa menderita Diabetes Mellitus. Dan sudah satu tahun mamah tidak bisa berjalan karena luka gangrene di kaki kanannya akibat DM. Ayahku adalah seorang pekerja keras, ia sangat mencintai mamah dan kami anak-anaknya. Aku mempunyai seorang kakak laki-laki, ia juga sangat menyayangiku.
Sudah 1 tahun aku menjadi mahasiswi Fakultas Ilmu Keperawatan di Universitas Indonesia. Di kampus ini aku bertemu teman-teman yang mengantarkanku kepada hidayah-Nya. Teman dekatku bernama Aisyah, ia adalah akhwat multitalenta. Ia pintar dalam perkuliahan, cerdas dan aktif dalam berorganisasi, ia pintar memasak, menjahit dan yang paling membuatku kagum adalah bacaan qur’annya yang sangat indah. Ia adalah orang yang pertama memperkenalkan keindahan Islam padaku.  
1 Agustus 2010
Ini adalah malam pertama aku tidur di kamar kos ku yang juga kamar kos Aisyah. Kami tinggal dalam satu kamar. Malam itu, aku terbangun oleh suara indah Aisyah. Aku lihat ia sedang membaca kitab sucinya dan masih memakai pakaian sembahyangnya. Hatiku bergetar saat mendengar Aisyah membaca kitab sucinya. Seperti syair, berirama dan sangat indah, sangat menyentuh. Aku terpesona mendengarnya. Dan tiba-tiba air mataku menetes saat ia membaca suatu ayat dan ia baca berulang-ulang dengan nada sangat sedih. Aisyah juga membacanya dengan berlinang airmata. Kami menangis bersama. Bedanya, temanku menangis karena tau maknanya, sedang aku menangis tanpa tau makna ayat tersebut.
Usai Aisyah mengaji, aku bertanya tentang ayat yang ia baca.  Ia berkata bahwa arti dari ayat yang ia baca berulang-ulang adalah “Maka nikmat Tuhan-mu yang manakah yang kamu dustakan?”. Seperti membaca pikiranku, Aisyah meminjamkan salah satu qur’an yang dimilikinya, qur’an tersebut dilengkapi dengan terjemah.
16 Agustus 2010
Hatiku sudah mantap. Aku yakin inilah jalan yang akan membuat hatiku tenang. Aku mengungkapkan keinginanku untuk segera berislam kepada Aisyah. Aku siap menerima semua konsekuensinya. Aisyah dengan kaget dan mata berkaca-kaca langsung memelukku erat, tidak ada kata-kata diantara kami. Yang ada hanya doa dan tangis haru bahagia. Pelukkan yang menguatkan hati. Bismillah…
17 September 2010
Hari ini mamah meneleponku sampai tiga kali, menanyakan kapan aku pulang. Ayah meneleponku meminta aku pulang karena katanya mamah sangat rindu kepadaku. Sebelumnya mamah pernah ingin mengunjungiku, tapi aku beralasan kalau tugas dan kuliahku sangat padat sehingga aku juga jarang ada di kamar kos. Sampai kakakku mengirim sms dan meminta aku pulang karena mamah sedang sakit. Ya Allah, aku juga sangat rindu pada mamah, tapi aku masih takut untuk pulang. Penampilanku sekarang berbeda dengan aku sebelumnya, kini aku berjilbab dan mengenakan baju muslimah dengan rapih. Mereka pasti akan kaget dan mungkin akan marah jika melihat penampilanku sekarang. Aku bingung…
20 September 2010
Aku pulang dengan membawa semua keberanian dan harapan. Aku datang tepat saat keluargaku berkumpul di ruang keluarga. Mereka kaget, bahkan ayahku langsung menarik jibabku dan melemparnya. Dengan cepat, akupun langsung mengambil jilbabku dan memakainya kembali. Ayah bertanya apa yang aku lakukan. Aku pun dengan lantang berkata bahwa aku sekarang adalah seorang muslimah. Ayah menamparku 2 kali. Mamah pingsan dan kakakku dengan sigap langsung menopang kepala mamah. Aku yang ingin menolong mamah, langsung dicegah oleh ayah. Kakakku menyuruhku untuk masuk ke kamarku. Ya Allah, perihnya pipi ini tidak sebanding dengan kenikmatan-kenikmatan syurga-Mu. Kuatkan hamba ya Allah…
21 September 2010
Pagi ini aku langsung disidang oleh keluargaku. Mamah dan kakak menanyakan mengenai keputusanku untuk berislam. Ayah menyuruhku untuk kembali menjadi Katolik. Kata Ayah, aku akan diberikan apapun jika aku kembali menjadi seorang Katolik. Aku menolaknya. Aku berkata, “Ayah, aku sangat mencintai engkau, mamah dan kakak. Tapi, agamaku tidak akan bisa ditukar dengan apapun. Bahkan jika Ayah menyuruhku untuk memilih antara keluarga dan agama, aku tetap memilih islam sebagai agamaku. Maafkan aku Ayah”. Mendengar ucapanku, Ayah langsung marah dan melayangkan tamparan ketiganya kepadaku. Mamah mencoba menenangkan ayah. Setelah agak tenang, ayah berkata dengan keras kalau ia tidak akan memberikan sepeser pun uangnya untukku. Aku  hanya bisa pasrah berdoa memohon pertolongan-Nya.
10 Oktober 2010
Aku sudah tidak tinggal di kos lagi. Ayah melarangku karena ia berfikir teman-temanku di kos-an yang menyebabkan aku berislam. Sekarang aku mengajar privat untuk keperluan kuliahku. Aisyah yang mencarikan murid untukku. Kakakku juga selalu memberikan sebagian uang kuliahnya untukku. Sungguh benar janji-Mu. “Sesudah kesulitan akan ada kemudahan.”
25 Oktober 2010
Kesehatan mamah semakin memburuk. Mamahku semakin hari semakin kurus akibat penyakit DM nya. Selain itu juga luka gangrene di kaki mamah semakin melebar. Beruntung aku kuliah di Keperawatan sehingga aku bisa merawat mamahku yang sakit. Ayahku kasihan melihat kesibukanku kuliah, mengajar dan merawat mamah, akhirnya Ia kembali membiayai kuliahku. Akupun sekarang fokus kuliah dan merawat mamah.

Sore itu, saat aku mengganti balutan luka di kaki mamah, mamah bertanya, “Dek, mamah mau nanya boleh?”. “Boleh lah mah”, jawabku. “Apa islam mengajarkan adek untuk mandiri, berlaku lemah lembut, dan patuh kepada orangtua? Mamah senang, adek sekarang jauh lebih dewasa dibanding dulu”. Dengan senyum aku menjawab, “iya mah. Semua yang adek lakukan adalah perintah Allah SWT. Adek membacanya dalam alqur’an. Perintah untuk berbakti kepada orangtua, berlaku lemah lembut, dan lainnya. Semua kebaikan diajarkan dalam agama Islam”. Kemudian mamah bertanya lagi, “Dek, apa adek  merasa tenang dan bahagia setelah memeluk islam?”. Akupun menjawab, “tentu mah. Adek sekarang merasa jauh lebih tenang dan bahagia setelah berislam. Adek jadi mempunyai tujuan hidup yang pasti, yaitu untuk beribadah kepada-Nya dan meraih syurga Allah. Hidup ini tidak kekal dan semua pasti akan mati, setelah mati lah kehidupan yang kekal itu. Dan amal kebaikan kita sebagai tabungan agar kita mendapat syurga”. Mamah berkata, “Dek, tolong ceritakan mamah tentang Syurga”. Aku pun membuka Al Qur’an, membacakan QS Ar Rahman ayat 46-78. Dan membacakan artinya kepada Mamah. Aku mendengar isakan tangis mamah. Setelah selesai membacanya, masih dengan berlinang airmata mamah berkata, “Dek, mamah juga ingin ke Syurga. Mamah ingin bersamamu merasakan keindahan Syurga. Mamah ingin berislam sepertimu sayang.” Subhanallah wal hamdulillah.. airmataku meleleh. Tangisan bahagia. Tangisan penuh syukur. Aku memeluk erat mamah. Airmata membasahi jilbabku dan pundak mamah. Ditelinganya aku bisikkan, “Mamah, aku sayang mamah karena Allah.”
Setelah mendengar keinginan mamah untuk berislam, kakakku pun meminta berislam bersama mamah. Mendengar itu, Ayah tidak marah. Ayah sangat menyayangi mamah dan tidak bisa menolak keinginan mamah, apalagi dalam kondisi mamah yang sedang sakit.
25 November 2010
Hari ini mamah masuk UGD setelah sebelumnya pingsan di rumah karena hipoglikemi akibat diare dan komplikasi lainnya. Sudah 4 jam mamah belum sadarkan diri setelah keluar dari ruang UGD. Aku dan kakakku tidak henti-hentinya berdoa untuk  kesembuhan mamah. Adzan Ashar berkumandang. Aku dan kakakku shalat di musholla rumah sakit. Setelah sholat kami kembali ke ruang rawat mamah. Ketika kami tiba, ayah langsung menghampiri kami dan bilang bahwa mamah sudah sadar dan ingin shalat ashar. Aku mewudhukan mamah dan membantu mamah sholat. Setelah itu mamah meminta aku membacakan surah Ar Rahman. Aku pun membacakan sambil berlinang airmata. Saat itu aku lihat ayah juga menangis. Sampai ketika selesai surat Ar Rahman, Mamah berkata, “Dek, terimakasih telah mengenalkan keindahan Islam kepada mamah. Terimakasih telah mengajarkan mamah sholat dan mengaji. Terimakasih karena adek sangat sabar merawat mamah. Maafkan semua salah mamah yah sayang. Semoga kita bisa berkumpul kembali di Syurga”. Aku menangis mendengar ucapan mamah yang tulus dengan suara yang lemah. Mamah kemudian pamit dan meminta maaf kepada ayah dan kakak. Kami semua menangis saat itu. Saat kami semua menangis, kami mendengar mamah bersyahadat dan setelah itu mamah meninggalkan kami semua. Ada senyum di wajah mamah. Mamah terlihat sangat cantik di akhir hayatnya. Saat itu tiba-tiba ayah berkata, “Mamah, ayah juga ingin berkumpul dengan mamah dan anak-anak di Syurga”. Asyhadu ala Ilaaha illallah, wa asyhaduanna Muhammad Rasulullah”.
Tangis ku pun semakin tersedu, tangis sedih atas kepergian mamah, tangis haru bahagia atas keislaman ayah. Kami semua berpelukan memeluk mamah yang sedang tersenyum. Dalam hati aku berkata, “Mamah, tunggulah kami di Syurga.”

Friday, 26 October 2012

Sabar

Galau??
Gelisah??
Resah??
Ya Allah.. ampun.. hamba mohon ampun..
Tidak seharusnya aku merasakan hal-hal seperti diatas. Harusnya hanya ada satu kata saat ini, SABAR!
Ya, harus sabar dalam proses ini.

Rasa galau dan kawan-kawannya itu adalah jika sedang berbuat dosa, maka pantaslah galau.
Sedang yang saat ini aku lakukan adalah usaha untuk mencapai ridho Allah, sepantasnya aku lebih tenang dan sabar dalam proses ini.
Ya, Orang yang banyak berinteraksi dengan Quran, harusnya lebih tenang, lebih bijak, karena semua solusi persoalan ada di Quran. Harus bisa mengambil pelajaran dan mengamalkannya. Sedangkan aku??? ya Allah, hamba mohon ampun karena belum mengamalkan ayat-ayatmu.

Disurat Al Baqoroh, dan salahsatu ayat "semangat" untukku,
"Ya Ayyuhal ladziina amanus ta'inuu bisshobri wassholaah, innallaha ma'asshobiriin"
"Wahai orang-orang yang beriman, mintalah pertolongan Allah dengan sabar dan sholat. Sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar"
Jelas dari ayat itu diperintahkan untuk bersabar. Lalu, kenapa aku masih.. !!!
Astaghfirullah..


Mengutip artikel di muslim.or.id,

Sabar adalah pilar kebahagiaan seorang hamba. Dengan kesabaran itulah seorang hamba akan terjaga dari kemaksiatan, konsisten menjalankan ketaatan, dan tabah dalam menghadapi berbagai macam cobaan. Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan, “Kedudukan sabar dalam iman laksana kepala bagi seluruh tubuh. Apabila kepala sudah terpotong maka tidak ada lagi kehidupan di dalam tubuh.” (Al Fawa’id, hal. 95)


Pengertian Sabar
Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin rahimahullah berkata, “Sabar adalah meneguhkan diri dalam menjalankan ketaatan kepada Allah, menahannya dari perbuatan maksiat kepada Allah, serta menjaganya dari perasaan dan sikap marah dalam menghadapi takdir Allah….” (Syarh Tsalatsatul Ushul, hal. 24)

Macam-Macam Sabar
Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin rahimahullah berkata, “Sabar itu terbagi menjadi tiga macam:
  1. Bersabar dalam menjalankan ketaatan kepada Allah
  2. Bersabar untuk tidak melakukan hal-hal yang diharamkan Allah
  3. Bersabar dalam menghadapi takdir-takdir Allah yang dialaminya, berupa berbagai hal yang menyakitkan dan gangguan yang timbul di luar kekuasaan manusia ataupun yang berasal dari orang lain (Syarh Tsalatsatul Ushul, hal. 24)


Dari artikel Hakikat Sabar (1) — Muslim.Or.Id by null